Feeds:
Pos
Komentar

Ciri-ciri Madrasah Bermutu

13 CIRI MADRASAH BERMUTU

  1. 1. Madrasah berfokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
  2. 2. Madrasah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul, dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal.
  3. 3. Madrasah memiliki investasi pada sumber daya manusianya, sehingga terhindar dari berbagai “kerusakan psikologis” yang sangat sulit memperbaikinya.
  4. 4. Madrasah memiliki strategi untuk mencapai kualitas, baik di tingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administratif.
  5. 5. Madrasah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya
  6. 6. Madrasah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas, baik untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
  7. 7. Madrasah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya.
  8. 8. Madrasah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas, mampu menciptakan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas.
  9. 9. Madrasah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang, termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horizontal.
  10. 10. Madrasah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas.
  11. 11. Madrasah memandang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut.
  12. 12. Madrasah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja.
  13. 13. Madrasah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan

(POKJAWAS PAI Merujuk pada pemikiran Edward Sallis)

 

 

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/10/08/13-ciri-ciri-Madrasah-bermutu/5/3/2009

13 CIRI MADRASAH BERMUTU

Merujuk pada pemikiran Edward Sallis, Sudarwan Danim (2006) mengidentifikasi 13 ciri-ciri Madrasah bermutu, yaitu:

  1. Madrasah berfokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
  2. Madrasah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul, dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal.
  3. Madrasah memiliki investasi pada sumber daya manusianya, sehingga terhindar dari berbagai “kerusakan psikologis” yang sangat sulit memperbaikinya..
  4. Madrasah memiliki strategi untuk mencapai kualitas, baik di tingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administratif.
  5. Madrasah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya
  6. Madrasah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas, baik untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
  7. Madrasah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya.
  8. Madrasah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas, mampu menciptakan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas.
  9. Madrasah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang, termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horozontal.
  10. Madrasah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas.
  11. Madrasah memandang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut.
  12. Madrasah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja.
  13. Madrasah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan

Sumber:

Sudarwan Danim. 2006. Visi Baru Manajemen Madrasah: Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. Jakarta: Bumi Aksara

 

 

AD/ART Pokjawas

13 CIRI MADRASAH BERMUTU

  1. 1. Madrasah berfokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
  2. 2. Madrasah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul, dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal.
  3. 3. Madrasah memiliki investasi pada sumber daya manusianya, sehingga terhindar dari berbagai “kerusakan psikologis” yang sangat sulit memperbaikinya.
  4. 4. Madrasah memiliki strategi untuk mencapai kualitas, baik di tingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administratif.
  5. 5. Madrasah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya
  6. 6. Madrasah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas, baik untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
  7. 7. Madrasah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya.
  8. 8. Madrasah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas, mampu menciptakan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas.
  9. 9. Madrasah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang, termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horizontal.
  10. 10. Madrasah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas.
  11. 11. Madrasah memandang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut.
  12. 12. Madrasah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja.
  13. 13. Madrasah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan

(POKJAWAS PAI Merujuk pada pemikiran Edward Sallis)

 

 

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/10/08/13-ciri-ciri-Madrasah-bermutu/5/3/2009

13 CIRI MADRASAH BERMUTU

Merujuk pada pemikiran Edward Sallis, Sudarwan Danim (2006) mengidentifikasi 13 ciri-ciri Madrasah bermutu, yaitu:

  1. Madrasah berfokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
  2. Madrasah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul, dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal.
  3. Madrasah memiliki investasi pada sumber daya manusianya, sehingga terhindar dari berbagai “kerusakan psikologis” yang sangat sulit memperbaikinya..
  4. Madrasah memiliki strategi untuk mencapai kualitas, baik di tingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administratif.
  5. Madrasah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya
  6. Madrasah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas, baik untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
  7. Madrasah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya.
  8. Madrasah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas, mampu menciptakan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas.
  9. Madrasah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang, termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horozontal.
  10. Madrasah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas.
  11. Madrasah memandang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut.
  12. Madrasah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja.
  13. Madrasah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan

Sumber:

Sudarwan Danim. 2006. Visi Baru Manajemen Madrasah: Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. Jakarta: Bumi Aksara

 

 

Profil Kabupaten Blora

Blora memiliki luas Wilayah keseluruhan 1.794,40 km ini terbagi menjadi 16 Kecamatan, berbatasan langsung dengan Kabupaten Pati dan Rembang di sebelah utara, Kabupaten Tuban dan Bojonegoro (provinsi Jawa Timur) di sebelah timur, Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) di sebelah selatan, serta Kabupaten Grobogan di sebelah barat. Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Kabupaten Blora, pada sub sektor kehutanan, Blora adalah salah satu daerah utama penghasil kayu jati berkualitas di Jawa Tengah, kegiatan penduduk banyak terserap di lapangan usaha pertanian, mayoritas adlah petani yang menanam tanaman pangan. Lanjut Baca »

Profil Propinsi Jawa Tengah

Lokasi daerah Jawa Tengah cukup strategis karena terletak di tengah-tengah pusat kegiatan ekonomi di Pulau Jawa, yaitu antara pusat pengembangan kawasan barat, seperti Jakarta-Bogor-Tangerang serta Bekasi dan kawasan timur, yang meliputi Gresik-Bangkalan-Mojokerta-Surabaya-Sidoardjo-Lamongan (Gerbang-kertasusila); serta rencana pembangunan jalan tol di Yogyakarta-Solo-Semarang (Joglosemar). Ditambah, adanya jalur pelayaran baik nasional maupun internasional di pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Semua itu memungkinkan Jawa Tengah memperluas jaringan pemasaran dan perdagangan antar kota, antar pulau dan perdagangan internasionalSecara administratif, Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 kabupaten, 6 kota, 568 kecamatan, 7.807 desa.

Jawa Tengah memiliki potensi di sektor pertanian, industri, perikanan, dan perkebunan.Hampir seluruh daerah di Jawa Tengah menghasilkan jagung, kecuali Magelang dan Pekalongan. Pengembangan komoditas karet dipusatkan di Kecamatan Wanareja dan Dayeuh Luhur Kabupaten Cilacap. Banyumas, Banjarnegara, dan Kendal .

Kopi dihasilkan oleh perkebunan rakyat di Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Magelang, Boyolali, Klaten, Wonogiri, Karanganyar, Kudus, Semarang, Temanggung, Tegal, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Brebes, Semarang and Salatiga. Lanjut Baca »